Ping Blog

Sabtu, 06 Oktober 2012

Cara Mengukur Diameter Piston yang Baik dan Benar

1433 H Dhu Al-Qi'da 21st
--------------------------------
















Itu adalah piston (ya ialah, emangnya tiang jemuran)

Kali ini kita akan bahas tentang cara mengukur diameter piston yang baik dan benar. Harus baik dan benar, baik saja tapi ndak bener yo sama saja, atau bener tapi ndak baik yo podo wae. (sama aja itu podo wae yo, xixixi )

Beberapa temen ane, mereka kalau mengukur piston itu seperti gambar berikut :


(klik gambar untuk memperbesar)

Bisa dilihat pada gambar tadi, itu adalah cara yang salah. Lwhoohh,,, emang salahnya di mana ?
Perlu diketahui bahwa piston adalah benda yang bertugas untuk memampatkan pertamax di ruang bakar. Oleh karenanya, kepala piston selalu menerima tekanan dan suhu tertinggi (sekitar 3 MPa dan 500 C), sehingga paling stress.

original post by : zul fauzi

Karena menerima tekanan dan suhu paling tinggi, maka sudah pasti bagian ini adalah bagian yang pemuaian nya paling besar. SEHINGGA, pabrikan dalam merancang sebuah piston, diameter atas selalu lebih kecil daripada diameter pantat. 

CONTOH : Misalkan piston Suzuki Satria FU, itu kan diameter pantatnya 62 mm, maka diameter kepalanya sekitar 61,8 mm. Lebih kecil daripada diameter pantatnya. Itu untuk memberikan jarak pemuaian agar piston tidak ngancing ketika bekerja pada suhu tinggi.

(klik gambar untuk memperbesar)

Sehingga pada rpm tinggi, diameter kepala piston akan sama dengan diameter pantat, yakni sama-sama 62 mm, dan akan kembali menyusut menjadi 61,8 mm ketika motor dimatikan dan mesin sudah dingin.

Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa ketika habis turing, dan motor diparkir terdengar bunyi "tik-tik-tik" bunyi hujan, itu karena diameter piston menyusut selain knalpot (knalpot juga termasuk part yang bekerja pada suhu tinggi, terutama di header nya), maka ndak heran kalau kadang bunyi nya seperti bersahutan.

OLEH KARENA ITULAH, cara mengukur diameter piston yang baik dan benar adalah mengukur bagian brutu nya (pantat), bukan kepalanya, seperti gambar berikut :

(klik gambar untuk memperbesar)

Yup, sekian, jika ada yang salah monggo dilempar sandalnya, (tapi aku langsung kaboorrr)
wkwkwkw

wassalamu'alaikum






4 komentar:

  1. Balasan
    1. matur suwun udah mampir di gudang (blog) saya yang amburadul ini, Kang :D

      Hapus
  2. jangan bicara pantat dech.....konotasinya bisa beda he..contoh bottom, lower, dll.

    thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. oke deh, Kang, nanti saya edit, makasih banyak atas koreksinya :)

      Hapus

Ping Blog